Riwayat Ilmu Tarikat Aceh dan Darutthaibah, Dayah Kharistik Salafiah Aceh

Aceh Utara – Beritalima : Nyaris kandas dan tak pernah tersohor kepublik, riwayah penting yang pernah disalah artikan, bahkan diklaim sebagai aliran sesat waktu pertama kali muncul. Tumbuh diantara tekanan politik, itulah asal mula lahirnya ilmu tarikat di Aceh Utara.

Dari salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPR Aceh) dan juga selaku Pimpinan Dayah Salafi Darutthaibah Batee Lhee, Meunasah Nga, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Tgk Ibnu Hajar mengisahkan tentang asal mulanya ilmu tarikat di Aceh pada tahun 1956 silam.

Dayah/Pasantren Darutthaibah berdiri pada tahun 1956 di Batee Lhee, Desa Meunasah Nga, Lhoksukon, Aceh Utara. Dibawah kemimpinan Abu H Muhammad Thaib, akrap disapa Abu Batee Lhee. Pondok pasantren tersebut membuka pengajaran yang masih baru di Aceh saat itu yakni Ilmu Tarikah. Selain dayah Pantai Barat Selatan yaitu Dayah kharismatik Aceh yang lebih dikenal dengan nama dayah Darussalam Labuhan Haji dibawah pimpinan Dayah, ulama Kharismatik Aceh almarhum Abuya Muda Wali Al-Khalidy, Darutthaibah menjadi dayah kedua yang menyiarkan ilmu yang berkenaan dengan etika tersebut.

Seiring waktu yang tak begitu lama, dayah yang sudah memiliki murid khusus santri sekitar 400 orang itu mendapatkan goncangan atas pembelajaran yang diagung-agungkannya. Sebagian besar alumninya, sekarang sudah mendirikan pondok pasentren tersendiri, bahkan diantaranya sebagian dari mereka merupakan ulama kharismatik salafiah di Aceh.

Dayah yang mengutamakan pendidikan Ilmu Syariat dan Tarikat terkait, sejalan beriring waktu. Sehingga telah berdiri juga pengajian-pengajian tarikat ini disetiap kecamatan di Aceh Utara, terutama kawasan Lhoksukon, silam. Tak terbantahkan juga, kala itu kebanyakan murid-muridnya berasal dari Kabupaten Aceh Timur.

Abu Batee Lhee atau Abu H Muhammad Thaib, merupakan ketua Tarikat se Aceh dimasanya. Sebagai salah satu murid Abuya Muda Waly Alkhalidy, Ulama besar ini juga pernah mengecapi pendidikan di Labuhan haji, perjuangannya pun untuk mengembangkan pendidikan sang guru, akrap dengan tantangan dari ilmu akhlak yang dianutnya.

Dalam memperjuangkan pendidikan agama islam tersebut, Abi Batee Lhee atau Tgk Ibnu Hajar yang merupakan salah satu putra Almarhum Abu Batee Lhee, pimpinan Dayah Darutthaibah saat ini, menceritakan pengalaman dan pengorbanan dari salah satu perjuangan abu untuk menegakkan ilmu tarikah. Diperkirakan sekitar tahun 1965, Abu Batee Lhee pernah melakukan perjalanan jauh bersama dengan putra kesayangannya tersebut dengan hanya mengunakan sepeda ontel. Jalan yang saat penuh lubang (Tak sekondisi jalan nasional saat ini-red), dari Tapak Tuan dan Meulaboh Abu membonceng putranya itu (Abi Batee Lhee) menuju Lhoksukon, tentunya perjalanan tersebut membutuhkan beberapa hari.

"Kala itu lebih cepat mengunakan sepada dari pada mobil dan sepeda motor," ujar Abi Batee Lhee, Tgk Ibnu hajar, saat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Darutthaibah, pada Senin malam (13/01).

Tahun 1966 Abi yang saat itu masih remaja, pulang mengunakan ontel dari tempat yang disebutkan diatas ketempat pengajiannya di Darutthaibah, hal itu dilakukannya, disebabkan kepentingan pendidikan.

Perjuangnya, saat mendirikan dayah serta mengajarkan ilmu tarikat, Abu pernah diklaim sebagai penganut aliran sesat, beliau terfitnah bersama ratusan murid setia yang ikut dengannya. Hal itu di perparah lagi oleh kondisi politik daerah yang menganut politik sekular yang harus dimenangkan oleh satu partai yakni Partai Golongan Karya (Golkar) dari 80 partai politik lainnya di Aceh. "Saat itu dari 80 Partai Politik Aceh, Golkarlah penguasa serambi Meukah, yang diwajibkan menang," tambah Abi.

"Saat difitnah dulu, Abu ditangkap oleh Komando Distrik dengan alasan menyebarkan aliran sesat, yaitu agama baru" timbalnya.

Fitnah itu terpicu atas lahirnya gagasan pendidikan ilmu tarikat, cirinya yang harus mengunakan pakaian serba putih dan tertutup menjadi umpatan diantara tidak ada pengetahuan masyarakat. Atas kehadiran dua ustad yang memehami urusan agama yang sengaja dihadirkan oleh Kodim Aceh Utara yang tidak disebutkan namanya itu, telah meluruskan masalah. Wal hasil, ilmu tarikat yang diajarkan oleh Abu Batee Lhee bukanlah aliran sesat.

Tak hanya ajaran baru yang menjadi sumber fitnah, Politik Golkar juga sangat berperan dan memicu fitnah yang menyudutkan nama ulama besar Aceh itu, alasan demi alasan termuntahkan, namun fakta perpolitikan Golkar hendak menjerumuskan ulama kharismatik itu sebagai pendukung partai.

"Akhirnya, karena perintah dan amanah guru, Abu masuk keranah politik Golkar dan bekerjasama, sejak itulah Tarikat mulai berkembang pesat seantero Aceh" kisah Abi Batee Lhee, seraya menyebutkan, Abu akrab mendapatkan olokan seperti "Dia orang gila, jadi jangan dipercaya. Lihat saja jam yang dipakeknya dua," lanjut abi mengkisahkan fitnah salah satu tokoh partai terkait saat itu, seraya menjelaskan jam yang dipakai dua itu merupakan hadiah orang lain kepada Abu, "Menghargai pemberian orang, Abu langsung makek,".

Paska bergabungnya Abu H Muhammad Thaib sebagai pendukung Golkar dari kalangan ulama besar Aceh itu. Kondisi dayah semakin membaik, fitnah kejam berubah menjadi pengetahuan dan ilmu tarikah yang dicintai oleh masyarakat sebagai ilmu untuk memperdalam mengenal tuhan sang pencipta alam, Allah SWT.

"Setelah itu ilmu tarikah berkembang pesat diseluruh pelosok Aceh Utara juga menjalar ke seantero Aceh, demikian Abu saat itu telah menjabat sebagai ketua Tarbiyah Golkar di Aceh Utara," tutup kisah singkatnya.

Pun sepeninggalan maha guru, almarhum Abu Batee Lhee, Darutthaibah tetap berkelanjutan. Paska berpulangnya Abu H Muhammad Thaib ke sang pencipta, dayah itu terus berjalan dibawah pimpinan Abi Batee Lhee, Tgk Ibnu Hajar bersama adik kandung. "Dayah ini akan terus berlangsung dan tiga tahun sekali pimpinan dayah akan silih berganti dengan anak-anak Abu yang lainnya," lanjut Abi, Abu semasa hidupnya pernah memiliki empat orang istri dengan jumlah anak sebanyak 20 orang.

Jumlah santri yang menetap diasrama dayah sebanyak 80 orang dan 40 lebih lainnya yang tidak menetap, terus mengais ilmu-ilmu agamanya. Sementara itu, dayah tersebut juga memiliki seribuan murid umum dari berbagai usia untuk mempelajari ilmu tarikah. Secara adat, setiap setahun sekali Abi kepada santri dan masyarakatnya mempersembahkan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW pada malam 12 Rabiul Awal tahun hijjriah. "Kegiatan ini sudah menjadi adat-istiadat dan norma dayah serta sudah berlangsung sejak pertama kali dayah ini berdiri," tukas Abi.

Dengan niat yang tulus untuk mendidik serta mengayoni anak putus sekolah dan pendidikan agama, Abi Batee Lhee atau Tgk Ibnu hajar merencanakan mengembangkan dayah menjadi dayah modern yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan sekolah. Hal itu disampaikannya, berhubungan banyaknya anak dibawah umur yang terlantar. "Kita utamakan Lhoksukon dulu," jelasnya.

Sementara itu ia juga menjelaskan, pihaknya juga telah mengkonsultasikan permasalahan tersebut dengan satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Aceh Utara. "Kita memilih SMK, disini kita memilih SMK sebagai sekolah yang instan. Dengan satu sekolah kita sudah mengajak kerjasama, jika jumlah siswa tidak tertampung di sekolah tersebut siap kita tampung semua," jelas Abu mengakhiri wawancara dengan wartawan beritalima.com di rumahnya.(Efendi Noerdin)