Misteri Letusan Gunung Kelud

beritalima.com - Malam Jumat Wage yang mencekam di kaki Gunung Kelud. Hujan abu bercampur kerikil dan pasir menguyur deras. Di kejauhan, kilat sambar menyambar di antara kepulan asap kehitaman dan lelehan lava. Suara menggelegar terdengar hingga jauh.
Meletusnya Gunung Kelud dinilai beberapa pihak menyimpan misteri. Gunung Kelud yang meletus Kamis (13/2/2014) pukul 22.50 WIB menjadi pembicarahaan hangat di berbagai media. Di jejaring sosial beredar berbagai foto seputar meletusnya Kelud
Salah satu foto yang beredar yakni foto awan panas yang dianggap menyerupai wajah manusia. Foto ini  diunggah oleh akun twitter Kusni Kasdut ?@RendyWafa. Menurut akun ini, foto awan panas hasil dari letusan Gunung Kelud membentuk wajah manusia. Dalam foto tersebut tampak beberapa polisi sedang memandang awan panas dan kilat saat Gunung Kelud meletus.
"@InfoMalangRaya erupsinya #kelud,awan panasnya kyk mbentuk wajah ya min.. pic.twitter.com/l7WEKB0NTk," unggah @RendyWafa beberapa saat setelah Gunung Kelud meletus, Kamis.
Penampakan awan aneh memang kerap muncul saat meletus. Salahsatunya saat Gunung Merapi meletus pada tahun 2010 silam yang memunculkan fenomena aneh awan berbentuk toko pewayangan, petruk.
Awan aneh tersebut berhasil diabadikan Suswanto, 43, warga Desa Sudimoro, Pucang Anom, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, dengan kamera miliknya.
Bagaimana tanggapan Anda, apakah benar mirip wajah manusia?
Sementara itu menurut paranormal salah satu faktor yang mempengaruhi erupsi Kamis (13/2/2014) malam itu adalah kondisi geografis Kediri yang merupakan daerah peninggalan Kerajaan Daha.
Menurut Heru Susilo, paranormal yang malang melintang di dunia metafisika sejak 40 tahun lalu dan pernah dekat dengan keluarga Cendana itu mengatakan salah satu penyebab kenapa abu vulkanik Kelud tidak sampai merembet ke wilayah sekitar—seperti Kota Malang—dan tidak banyak menelan korban jiwa adalah karena faktor Kerajaan Daha.
"Daha merupakan salah satu kerajaan tertua di tanah Jawa sehingga 'tidak rela' kalau abu vulkanik Kelud meluluh lantakkan wilayah Kediri dan sekitarnya yang merupakan tetenger Kerajaan Daha," kata Heru kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di Malang, Jumat (14/2/2014).
Kerajaan Daha membawa faktor ritual yang berpengaruh pada dinginnya suhu. Sehingga letusan abu vulkanik dari Gunung Kelud masih terkontrol dan teredam oleh udara yang dingin. Kasus letusan Gunung Kelud menurutnya sangat berbeda dengan Gunung Sinabung yang lebih dulu meletus beberapa waktu lalu dan menelan sejumlah korban jiwa.
"Letusan Kelud kalau dicermati tidak seganas atau seliar letusan Sinabung. Ini karena faktor sejarah, tidak bisa dipungkiri Kediri adalah tempat Kerajaan Daha dulunya bercokol," jelas dia.
Awan panas Kelud lanjut dia juga relatif lebih `bersahabat` jika dibandingkan dengan letusan gunung berapi lainnya di Indonesia. Pihaknya memang meramalkan jika Kelud bakal meletus pada Kamis malam. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh faktor lingkaran atau gugusan gunung berapi di Indonesia yang masuk dalam cincin api. Sehingga jika ada gunung berapi yang meletus, maka akan mempengaruhi gunung berapi lainnya.
"Setelah Gunung Sinabung saya prediksikan jika Kelud juga akan ikut meletus, karena berada dalam satu lingkar cincin api. Antara satu gunung berapi dengan lainnya saling berhubungan dan terkait erat satu sama lain," ujar lelaki yang akrab dipanggil pakde itu. 
(sumber: solopos.com)