Tafrizal Chaniago: Jadi Juri Kamera Video Perahu Naga Musti Pintar Manfaatkan Waktu

HELAT akbar International Dragon Boat Festival ke-12 telah usai. Di balik sukses festival perahu naga berskala internasional ini, ternyata terselip kisah menarik berupa pengalaman seorang juri kamera video yang selalu "siaga" mengabadikan detik-detik akhir perlombaan di garis finish. Sang juri bernama Tafrizal Chaniago, yang saat ini menjabat Kasubag Pemberitaan di Bagian Humas Pemko Padang. 

Kepada mass media, Tafrizal memaparkan, dalam 12 kali perlombaan International Dragon Boat Festival di Padang, sebanyak 11 kali ia menjadi juri kamera video di garis finish. Sebagai salah satu elemen penting dalam iven tahunan tersebut, ia telah merasakan banyak suka duka. Jika dilihat dengan mata telanjang, hasil perlombaan sepintas sama. Namun tidak demikian jika moment menentukan di garis finish diabadikan dengan kamera video. Akan terlihat secara jelas tim dayung  mana yang mencapai garis finish terlebih dahulu, tim dayung mana di posisi berikutnya dan tim dayung mana yang berada di garis belakang. 

Ketika para atlit atau ofisial merasa kurang puas dengan hasil perlombaan, biasanya mereka menuntut putar ulang rekaman video di garis finish. Tak jarang, baik atlit maupun ofisial meminta pemutaran ulang rekaman video dengan nada kasar bahkan setengah mengancam. "Alhamdulillah semua dapat diatasi dengan sikap sabar dan tenang, seraya memberikan pemahaman kepada atlit maupun ofisial," papar pria yang akrab disapa "Taf" tersebut.  

Biasanya, setelah melihat hasil rekaman video, masing-masing atlit maupun ofisial yang tadinya merasa kurang puas baru bisa tenang lalu pergi dengan senang hati. Yang kalah tidak merasa dirugikan dalam perlombaan. 

Taf menekankan, penjurian lomba perahu naga tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh. Penilaian sesuai kemampuan para atlit dan tidak bisa diakali. Dengan demikian, para kontingen, baik dari dalam negeri maupun luar negeri merasa puas karena lomba dilaksanakan secara profesional dan jauh dari kecurangan dan sejenisnya.

Sebelas tahun menjadi juri di garis finish dengan menggunakan kamera video untuk merekam hasil akhir lomba perahu naga di Padang,  menurut Taf tidak satu pun ditemui waktu yang sama antara masing-masing ketika masuk garis finish. 

"Rekaman video sangat memanfaat untuk menangkis segala tudingan. Kecurangan dan ketidakadilan di garis finish dapat dipertanggung jawabkan. Protes dari tim yang tidak menerima kekalahan bisa diatasi dengan baik. 

Satu hal yang dirasa berat oleh Taf ketika menunaikan tugas sebagai juri kamera video di garis finish, posisinya tak boleh digantikan oleh siapapun, walaupun hanya sebentar sekalipun. Disamping skill, pekerjaan ini juga menuntut kecermatan. Kepercayaan penuh yang diberikan oleh ketua panitia di garis finish harus dijaga sebaik mungkin. Untuk itu, harus pintar-pintar memanfaatkan waktu sedemikian rupa untuk shalat dan buang air kecil. 

"Situasi yang saya rasakan paling tidak nyaman adalah ketika kebelet buang air kecil. Mengingat lomba diikuti peserta lintas bangsa, keinginan buang air kecil terpaksa ditahan. Sebabnya ya itu tadi. Tugas tak bisa ditinggalkan atau digantikan oleh orang lain. 

Adalah sebuah kebanggaan tak ternilai ketika perlombaan berlangsung lancar mulai awal hingga penutupan.  "Bagi saya, tugas sebagai juri kamera video di garis finish terlaksana sesuai harapan semua pihak, merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Disamping berlandaskan niat tulus ikhlas dan kesungguhan dalam bekerja, hanya satu niat di hati saya, sukseskan lomba perahu naga bertaraf internasional di Kota Padang," ungkap Tafrizal. 

(ede)