Presiden SBY Meresman Patung Saraswati diKBRI Washington DC Amerika Serikat

Dewi Saraswati tidak hanya menggambarkan kecantikan dan keindahan saja, bagi umat Hindu Dewi Saraswati adalah pembawa cinta, kasih sayang, pengetahuan, kehalusan budi pekerti, seni dan kebudayaan. membangun dan meletakkan patung Dewi Saraswati di suatu tempat yang dapat dinikmati oleh publik adalah upaya menghadirkan kekuatan cinta, pengetahuan, sikap arief, bijak, dan toleransi ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia sehari-hari. Terutama di saat seperti sekarang dimana banyak persoalan di sebagian bumi yang diwarnai tindak kekerasan, serta sikap-sikap yang menjauh dari toleransi, cinta, kemanusiaan dan rasionalitas. Hal ini disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat meresmikan patung Dewi Saraswati, di pelataran gedung Kedutaan Besar RI di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (25/9) sore hari waktu setempat atau Jum’at (26/9) pagi hari waktu Jakarta.  Presiden SBY mengingatkan kembali bagaimana Indonesia harus terus berupaya turut aktif mengurangi masalah di dunia, yang berawal dari kebencian, ketidakpedulian, rasa takut dan penistaan. Sikap bijak yang senantiasa menolak dan memerangi pola pikir negatif ini penting untuk terus disemai dan ditanamkan dari generasi ke generasi. ”Saya ingin menyerukan marilah kita sungguh terpanggil untuk membuat dunia ini semakin teduh, karena konflik, kebencian dan kekerasan hanya membawa penderitaan bagi rakyat dari negara manapun. Maka diperlukan kehendak, energi dan pikiran-pikiran yang baik”. Ucap Presiden SBY.  Pada kesempatan yang sama Presiden SBY menegaskan bahwa idiologi yang dianut kelompok radikal ISIS bukanlah mencerminkan islam sama sekali, bahkan merugikan dan memfitnah citra Islam. Karena itu Indonesia harus berusaha meluruskan pemahaman sebagian masyarakat yang keliru tentang Islam akibat tindakan tak bermoral dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok ISIS.  Presiden SBY menandatangani patung Saraswati, dengan disambut  pertunjukan tarian Gabor atau Penyembara oleh penari Bali, diikuti upacara peresmian secara adat Bali “Pemlaspas dan Prayasita” dipimpin oleh Bupati Badung. Presiden SBY menaiki undakan kecil di pelataran, membuka tudung dan menggunting pita diiringi musik gamelan Bali “Bleganjur” yang dibawakan oleh 22 orang mahasiswa Warga Negara Amerika dan empat orang penari Warga Negara Indonesia.  Patung Saraswati dibuat oleh tujuh orang perupa dari Badung, Bali, dan diniatkan sebagai persembahan dari masyarakat Indonesia untuk masyarakat Washington DC yang memang senang mendirikan berbagai patung di berbagai lokasi dan sudut kota. Patung setinggi sekitar lima meter ini, juga mengusung konsep ”Nasionalisme Unggul” yang menegaskan bahwa budaya unggul hanya bisa terjadi bila kearifan lokal dan modernitas mampu tumbuh dalam sinergi secara bersama-sama. Dalam konteks ini, Bali mempunyai keunggulan luar biasa karena memberikan kontribusi yang sangat besar di pentas internasional seperti melalui Bali Democracy Forum, World Cultural Forum yang sudah dua kali dilaksanakan di Bali, serta konsep Tri Vita Karana yang diakui sebagai warisan dunia. Patung Dewi Saraswati dikelilingi oleh rumput dan pohon yang membuat suasana sekelilingnya rindang. Di depannya terdapat patung tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki, yang sedang duduk sambil membaca buku bersama. Setiap bagian dari patung tersebut merupakan simbol dengan arti tertentu. Kecantikan Sang Dewi menggambarkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang cantik dan menarik. Daun lontar yang dia genggam mewakili buku sebagai sumber ilmu pegetahuan. Rebab adalah simbol bagi kesenian dan budaya. Genitri atau tasbih yang melingkar melambangkan proses pencarian ilmu pengetahuan yang tak mengenal kata akhir. Angsa merupakan simbol kebijaksanaan, sedangkan bunga teratai yang tetap bersih meski tumbuh di lumpur melambangkan kesucian dan kemurnian. 

Foto : Patung Dewi Saraswati di pelataran gedung KBRI Washington DC, Amerika Serikat diresmikan oleh Presiden SBY pada Kamis (25/9) sore hari waktu setempat atau Jum’at (26/9) waktu Jakarta. Presiden SBY mengingatkan kembali bagaimana Indonesia harus terus berupaya turut aktif mengurangi masalah di dunia, yang berawal dari kebencian, ketidakperdulian, rasa takut dan penistaan. Sikap bijak yang senantiasa menolak dan memerangi pola pikir negative ini penting untuk terus disemai dan ditanamkan dari generasi ke generasi.