Propinsi Aceh Rawan Penyeludupan Narkoba

Aceh Timur- Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat, Irjen Pol Dedi Fauzi, mengatakan, sindikat narkoba selalu memanfaatkan jalur-jalur kecil (jalan tikus) untuk melakukan penyeludupan narkoba jenis sabu-sabu.

Demikian disampaikan, Irjen Pol.Dedi Fauzi saat menjawab pertayaan wartawan dalam konferensi persnya terkait penangkapan lima tersangka dan barang bukti narkona jenis sabu- sabu seberat 77,35 kg serta empat pucuk senjata api (senpi) beserta magazine plus pelurunya di markas kompi (Mako) Brimob Subden 2 Detasemen B Pelopor   Aramiah, Selasa (17/2).
           
Pada konferensi pers tersebut juga dihadiri Kabid Humas BNN Pusat, Kombes Pol Slamet Pribadi, Kepala BNN Provinsi Aceh, Kombes Drs. Armensyah Thay,Kepala BNN Sumut, Kombes Pol Drs. Rudi Tranggono, Kepala BNN Langsa, AKBP Navri Yuleni, SH. MH, Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, SIK, MH, Kepala Detasemen B Pelopor, Kompol Dodik dan Komandan Kompi Brimob Subden 2 Detasemen B Pelopor  Aramiah, AKP. Iswahyudi.
           
Lebih lanjut kata Dedi, semua jalur-jalur atau pelabuhan kecil yang ada setiap daerah sudah terpantau yang dimanfaatkan para sindikat narkoba untuk melakukan penyeludupan.

Makanya, untuk mempersempit perggerakan sindikat narkoba ini kita terus melakukan pengawasan secara ketat terutama aparat penegak hukum setempat yakni dengan cara patroli rutin gabungan bersama Polri/TNI untuk memutuskan mata rantai sindikat itu.

"Yang paling penting peran dari pemerintah daerah setempat, dan masyarakatnya untuk ikut juga melakukan pengawasan terhadap jalur-jalur kecil ini, sehingga para sindikat narkoba tidak memiliki peluang sedikit pun dalam melancarkan kegiatan tersebut. Apalagi, Aceh sudah masuk katagori darurat (rawan) dalam penyeludupan narkoba jenis ganja dan sabu-sabu." Harapnya.
           
Dalam pemaparannya, ia merincikan, ada lima tersangka yang ditangkap masing-masing yakni, Abdullah alias Dollah (37)  berperan sebagai distributor dan penyedia dana, Hamdani (38) sebagai perantara dengan sindikat narkoba di Malaysia, Hasan (36) sebagai penjemput, Usman  alias Rauf (43) dan Samsul Bahri alias Kombet (37) sebagai penerima." Dan dua tersangka lagi masih dalam pengejaran alias buron yakni Rizal dan Muksin."Papar Dedi. 
           
Selain menyita barang bukti sabu-sabu seberat 77,35 kg serta empat pucuk senpi masing-masing tiga jenis FN dan M-16 berikut empat magazine plus puluhan pelurunya juga melakukan penyitaan uang tunai senilai Rp 49.300.000, tiga unit mobil alat berat, lima mobil mewah jenis Alpard BK 89 DL, Nissan X Trail BK 1586 OG, BMW BK 86 ML, New CRV BL 9 DL, Toyota Avanza  BL 889 DB, kebun karet seluas 323 Ha dan 3.12 ladang kebun.


Semua barang bukti tersebut disita dari tersangka Abdullah alias Dollah itu diduga merupakan dari hasil penjualan sabu-sabu." Untuk kasus narkoba akan ditangani oleh pihak BNN Pusat yang nantinya akan dilakukan pengembangan lagi dan kepemilikan senpi ditangani oleh Polres Aceh Timur," ujarnya seraya menambahkan para tersangka akan dibawa ke Jakarta.
           
Pengungkapan kasus sabu-sabu ini menjadi tangkapan terbesar pada awal tahun ini di wilayah Aceh Timur. " Sebelumnya, kepolisian Aceh Utara menangkap empat pemilik dan pengedar sabu-sabu dengan barang bukti kurang lebih 14 kg di Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Sementara kasus narkoba di Aceh Timur ini berhasil kita ungkap setelah selama 18 bulan melakukan penyelidikan." Papar Irjen Dedi.
           
Sementara Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, SIK, MH mengatakan, kasus kepemilikan senpi ini akan terus kita kembangkan.


" Karena dengan adanya temuan senpi dalam kasus pengerebekan narkoba berarti di Aceh masih ada senpi ilegal yang beredar ditangan masyarakat." Imbuh Kapolres Aceh Timur, Hendri Budiman. (N- 70)