KNPB Minta Polda Papua Jangan Alihkan Isu

Jayapura, beritalima.com - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) meminta Polda Papua segera bertanggung jawab atas  penembakan terhadap 4 (empat) warga sipil yang berujung pada tewasnya Obang Segenil (48) saat penyisiran dikantor KNPB Yahukimo pada Sabtu 21 Maret 2015 lalu.



"Polda Papua segera bertanggung jawab atas tindakan kriminal terhadap nyawa manusia di yahukimo yang dilakukan sejak tanggal 19 - 21 Maret 2015, dan berujung pada penembakan hingga menewaskan seorang warga sipil di Yahukimo," kata Basoka Logo selaku Juru bucara KNPB Pusat saat menggelar jumpa pers di Abepura, Selasa (24/3/2015).

Basoka menambahkan, awal mula kejadian arogan aparat yang berujung pada penembakan warga tersebut dimulai saat aparat membubarkan aksi penggalangan dana kemanusiaan untuk Vanuatu pada tanggal 19 maret 2015, dan lagi pernyataan Kapolda Papua terkait penemuan senjata api jenis taurus milik Kasat Intel Polres Yahukimo, di katakan dalam salah satu media lokal Papua bahwa, senjata api yang hilang tersebut berhasil ditemukan saat melakukan penyisiran di sekretariat KNPB Yahukimo, padahal yang sebenarnya tidak demikian.

"Polda Papua telah melakukan pembohongan publik, yang sebenarnya pada hari Jumat tanggal 20/3/2015, pukul 20.15 Wit, masyarakat menyerahkan senjata api jenis pistol tersebut kepada Badan Pengurus KNPB, yang selanjutnya pada sabtu 21/3/2015 diserahkan kepada Elay Giban yang merupakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Yahukimo dan juga selaku koordinator penyerahan senjata api, selanjutnya pada hari yang sama Pemerintah Kabupaten Yahukimo melalui Wakil Bulati Yahukimo Roby Longgotoy menyerahkan senjata api tersebut  kepada Kapolres Yahukimo AKBP. Ade Djaja Subagja," terang Basoka.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam pemberitaan di media lokal tersebut bahwa Polda Papua mengamankan 6 (enam) orang warga Yahukimo, yang jadi pertanyaan adalah mereka diamankan atas apa, padahal aksi yang Gilang aktivis KNPB merupakan aksi kemanusiaan, yang menurut Basoka, Polisi membubarkan aktivis yang sedang melakukan aksi penggalangan dana dengan paksa, yang sebelumnya tidak ada masalah, namun setelah Brimob datang kemudian membubarkan secara paksa, dengan mengeluarkan tembakan.

"Jadi jika di selidiki kembali, aktornya adalah Polda Papua dalam hal ini Brimob, yang mana selang penggalangan dana berlangsung sebelumnya tidak ada pembubaran, namun setelah Brimob datang maka terjadilah perampasan spanduk dan pembubaran secara paksa masa yang melakukan aksi solidaritas," kata Basoka lagi.

Sementara di tempat yang sama, Sekretaris Umum KNPB Ones Sahuniap mengatakan, pihaknya menyesalkan tindakan kepolisian di Yahukimo, Polda Papua diminta jangan mengalihkan isu yang sebenarnya, dan lagi stetmen Polda Papua yang akan membubarkan KNPB, atas itu pihaknya mengatakan jika KNPB sudah ada sebelum NKRI masuk di  Papua. Terkait kasus Yahukimo pihaknya meminta DPR Papua serta Komnas HAM segera membentuk tim untuk melakukan penyelidikan di Yahukimo.

"Jika akan membubarkan KNPB adalah bertentangan dengan hukum internasional yang mana hak berkumpul dan hak mengeluarkan pendapat didepan umum itu sudah dijamin hukum internasional, KNPB tidak akan dibubarkan oleh siapapun, di sini kami dilahirkan dan di sini juga kami akan mati, dan lagi DPRP dan Komnas HAM harus segera turun ke Yahukimo, jangan mendengar dari pemberitaan media saja," tutup Ones. (Edy)