Peluncuran dan Diskusi Buku Hari-Hari Terakhir Orde Baru

JAKARTA, beritalima.com - 17 tahun silam tragedi Mei 1998 telah berlalu namun masih banyak menimpang pertanyaan khususnya untuk kalangan Tionghoa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia Tionghoa yang didirikan 10 April 1999 yang didasari atas tragedi kerusuhan 12 - 14 Mei 1998 dan runtuhnya rezim Orde Baru 20 Mei 1998.

Kala itu INTI tercatat sebagai satu-satunya ormas Tionghoa yang bersifat kebangsaan, inklusif dan mempunyai visi misi memperjuangkan kesetaraan hak aerta menyelesaikan masalah Tionghoa di Indonesia sampai tuntas.

"Penyelesaian masalah kesetaraan etnis Tionghoa dibilang hampir tuntas, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang dilakukan oleh Negara perlahan-lahan mulai dikikis sejak zaman pemerintahan Gus Dur. Hal ini secara gamblang Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta. Ini berkat dukungan para tokoh, lembaga dan komunitas lain yang senantiasa mengedepankan wacana penyadaran sebagai sebuah bangsa bahwa Tionghoa bagian integral sari bangsa Indonesia," tandas Ketua Gema INTI, sayap Organisasi INTI dibidang kepemudaan.

Gema INTI ambil bagian bekerjasama dengan beberapa komunitas mengadakan peringatan tragedi Mei 1998 dengan memberikan miniatur Jarum Mei'98. Tahun 2012 bersama Solidaritas Nusa Bangsa menerbitkan buku Sepenggal Catatan Merah, tahun 2013 bersama Grafisosial dan Fakultas Seni Rupa dan Desain Univesitas Tarumanegara (FSRD Untar). Tahun 2014 bersama Komunitas Perempuan menyelenggarakan pemutaran film Sapu Tangan Fang Ying, kisa nyata korban perkosaan massal Mei'98.

2015, Tepat 17 tahun Mei 1998 Gema INTI memaknai cara berbeda, bekerjasama dengan Lem baga Kajian Sinergi Indonesia dan Komunitas Bambu. Gema INTI menerbitkan buku karya Peter Kasenda yang berjudul Hari-Hari Terakhir Orde Baru, menelusuri akar Kekerasan Mei 1998. Buku itu menyikap akar-akar pewristiwa jatuhnya rezim Orde Baru, menghadirkan suatu analisis beragam data mengfenai peristiwa penculikan aktivis Tragedi Trisakti, Kerusuhan Massal, dan Pengkambinghitaman Etnis Tionghoa.

Dalam bedah buku ini, Gema INTI mengundang 2 orang tokoh pergerakan mahasiswa aktivis 1998, pertama Ulung Rusman, dan Savic Ali. Mereka berdua sebagai pelaku sejarah yang terjen langsung di lapangan. Diharapkan bisa merekonstruksi kembali yang terjadi tahun 1998 itu.

Hardi Stevanus, Ketum Gema INTI mengatakan kerusuhan yang terjadi Mei 1998 agar bisa diingatkan kembali hingga generasi penerus dapat mengetahui yang sebenarnya, sebagai saat itu terjadi pembantaian, penculikan, pembunuhan, perkosaan, dan lain sebagainya. Selain itu diterangkan Peter Kasenda penulis buku Hari-Hari Terakhir Orde Baru dalam menelusuri akar kekerasan Mei 1998.

"Kerusuhan itu jangan dilihat dari sisi negatif tapi ada sisi positifnya meskipun banyak pelanggaran," tandas Peter Kasenda.

Dia pun menjelaskan juga dalam karya tulisnya di desain dengan sangat hati-hati karena ada nama-nama orang penting, dan bisa celaka bila asal mengutip lalu dipublikasikan. Sementara diterangkan juga oleh Savic Ali mantan aktifis Mei 1998, menolak kelompok-kelompok yang menyangkal terjadinya kerusuhan Mei 1998. Ia pun menyayangkan setelah mengumpulkan dokumen kerusuhan Mei termasuk helm yang ditembak aparat di tri sakti, hilang begitu saja saat ngontrak. dedy mulyadi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

0 comments:

Posting Komentar

Beri komentar anda, atau kirim email ke berita_lima@yahoo.com